Budaya Kerja Ekstrim di Jepang

Budaya Kerja Ekstrim di Jepang


Februari 10, 2025 | Kategori: Uncategorized.

Kerja lembur udah jadi bagian dari hidup orang Jepang. Sampai-sampai ada yang meninggal gara-gara kebanyakan kerja, istilahnya “karoshi”. Kenapa sih orang Jepang kerjanya giat banget? Udah denger belum, Jepang termasuk negara dengan jam kerja terpanjang di dunia. Hampir seperempat perusahaan di sana ngebebanin karyawannya kerja lembur 80 jam per bulan, dan seringnya gak dibayar.

Budaya kerja di sana dipengaruhi sama yang namanya “salaryman”. Ini tuh orang yang punya loyalitas tinggi ke perusahaannya dan biasanya kerja di satu tempat seumur hidup. Gak cuma kerja lama di kantor, mereka juga diharapkan ikut kegiatan setelah kerja, kayak minum-minum sama kolega.

kerja di jepang

Mereka juga jarang ngambil cuti. Tahun 2017, ada survei yang bilang kalau meskipun mereka dapet jatah cuti 20 hari per tahun, orang Jepang rata-rata gak pake 10 harinya. Ini paling tinggi dibanding negara lain.

Budaya kerja ini berakar dari yang disebut keajaiban ekonomi Jepang, yang bikin ekonomi Jepang melejit mulai tahun 1950-an dan jadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Di dalam perusahaan Jepang, kesuksesan perusahaan lebih penting daripada kepentingan individu, makanya 63% orang Jepang merasa bersalah kalau ambil cuti.

Tapi, jam kerja panjang gak selalu berarti produktif. Faktanya, produktivitas Jepang termasuk yang terendah di antara negara G7. Kasus karoshi sering kejadian, biasanya ditandai serangan jantung, stroke, atau bunuh diri karena stres. Kasus terkenal terjadi di perusahaan iklan Dentsu tahun 2015, di mana seorang karyawan bunuh diri karena depresi akibat overwork. Kasus ini bikin heboh dan ada desakan buat mengubah jam kerja yang panjang dan lembur gak dibayar yang marak di Jepang.

capek kerja

Pemerintah dan perusahaan udah berusaha ngurangin jam kerja. Misalnya, pemerintah bikin kebijakan wajib ngambil minimal lima hari cuti per tahun dan ngeharusin ada periode istirahat antar hari kerja. Tahun 2016, ada libur baru “Mountain Day” dan tahun 2017 diluncurin inisiatif “Premium Fridays” biar karyawan bisa pulang jam 3 sore tiap Jumat terakhir bulan itu.

Baca juga:  Produksi Jasa Profesi dan Profesionalisme Dimulai dengan Melakukan Ini

Tapi tantangan budaya masih ada. Karena budaya Jepang lebih mengutamakan kelompok daripada individu, gak ada yang mau jadi orang pertama yang ninggalin kantor. Selain itu, ekonomi Jepang juga lagi dalam bahaya. Buat menjaga ukuran ekonominya yang besar, mereka harus kerja keras. Populasi Jepang juga menurun karena angka kelahiran rendah dan populasi yang menua.

Ada dua cara buat nanggulangi kekurangan tenaga kerja: imigran atau robot. Jepang kurang suka nerima imigran, jadi mereka lebih milih robotik buat isi kekosongan tenaga kerja di berbagai sektor. Tapi apakah teknologi ini bisa bantu keseimbangan kerja dan hidup yang lebih baik buat pekerja Jepang? Itu masih jadi pertanyaan.

Berita lainnya


+62-815-1121-9673