
Jika Anda pernah membayar sesuatu dengan ponsel, mentransfer uang menggunakan aplikasi, atau memeriksa laporan bank secara online, maka Anda sudah menjadi bagian dari industri bernilai miliaran dolar. Industri ini disebut fintech. Fintech adalah singkatan dari teknologi keuangan – kedengarannya sederhana, bukan? Namun, istilah fintech mencakup berbagai produk, teknologi, dan model bisnis yang mengubah industri layanan keuangan. Ini mencakup segala sesuatu mulai dari pembayaran tanpa uang tunai, platform crowdfunding, penasihat robo, hingga mata uang virtual. Jadi, setiap kali Anda berdonasi untuk kampanye Kickstarter seseorang – itu adalah fintech. Atau jika Anda mentransfer uang ke seseorang menggunakan Venmo – itu juga fintech. Dan semua itu baru permulaan.
Di sebuah konferensi fintech besar di Amsterdam, ratusan perusahaan berusaha mengguncang industri perbankan dan keuangan dengan mengubah cara kita membayar dan meminjam uang. Investasi global di sektor fintech telah mencapai hampir $100 miliar sejak 2010. Pada tahun 2017 saja, investasi fintech meningkat 18%. Startup yang berfokus pada teknologi pembayaran dan peminjaman menerima sebagian besar dana tersebut. Bukan hanya startup yang terlibat dalam fintech. Beberapa perusahaan besar di dunia dari Apple hingga Alibaba juga menekuninya. Lihat saja Apple Pay atau Alipay. Salah satu alasan untuk semua investasi ini yaitu karena konsumen mengadopsi fintech dengan cepat. Satu dari setiap tiga orang di 20 ekonomi utama melaporkan menggunakan setidaknya dua layanan fintech dalam enam bulan terakhir. China dan India memimpin dengan lebih dari setengah konsumen menggunakan layanan seperti transfer uang, perencanaan keuangan, peminjaman, dan asuransi.
Berikut beberapa contoh perusahaan fintech yang terkenal:
- Gojek – Melalui layanan GoPay, Gojek menawarkan solusi pembayaran digital yang aman dan mudah digunakan di Indonesia.
- OVO – Platform pembayaran digital yang memungkinkan pengguna untuk melakukan transaksi non-tunai di berbagai merchant.
- DANA – Dompet digital yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran online dan offline dengan mudah.
- LinkAja – Layanan keuangan elektronik yang menyediakan berbagai fitur seperti pembayaran tagihan, pembelian pulsa, dan transfer uang.
- Jenius – Produk dari Bank BTPN yang menawarkan layanan perbankan digital dengan fitur-fitur seperti tabungan, transaksi, dan manajemen keuangan.
- Kredivo – Platform kredit digital yang memungkinkan pengguna untuk berbelanja sekarang dan membayar kemudian dengan cicilan.
- Akulaku – Menyediakan layanan pembiayaan konsumen dan cicilan online untuk pembelian berbagai produk.
Ketujuh contoh di atas menunjukkan bagaimana fintech telah mengubah cara kita berinteraksi dengan layanan keuangan, yang memudahkan transaksi, dan memperluas akses ke produk keuangan.
Teknologi keuangan telah mengisi kekosongan bagi orang-orang di seluruh dunia yang tidak memiliki akses ke layanan perbankan tradisional. Faktanya, diperkirakan hampir dua miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki rekening bank. Sekarang, berkat fintech, yang Anda butuhkan hanyalah ponsel untuk mengambil pinjaman atau asuransi. Ambil contoh Kenya, yang mempelopori sistem perbankan seluler yang disebut M-Pesa. Warga Kenya dapat mengakses akun M-Pesa mereka langsung melalui ponsel untuk mentransfer uang, membayar tagihan, atau mengambil pinjaman. Saat ini, diperkirakan 96% rumah tangga di Kenya menggunakan M-Pesa dan satu studi menemukan bahwa ini telah membantu mengangkat sekitar 2% rumah tangga Kenya keluar dari kemiskinan ekstrem.
Kemunculan fintech telah memaksa pemberi pinjaman tradisional, perusahaan asuransi, dan pengelola aset untuk merangkul teknologi digital baru. Misalnya, jasa konsultan keuangan sekarang harus bersaing dengan penasihat robo – yang merupakan layanan perencanaan keuangan otomatis. Berkat algoritma canggih, layanan ini tersedia 24/7 dan dapat lebih terjangkau daripada manajer aset tradisional. Hal ini membantu menjelaskan mengapa penasihat robo sudah mengelola miliaran dolar.
Seperti industri yang sedang berkembang lainnya, fintech tidak lepas dari risiko. Beberapa regulator kesulitan mengikuti inovasi yang cepat. Pikirkan platform pinjaman peer-to-peer, di mana individu meminjam dan memberi pinjaman tanpa melalui bank. Dibandingkan dengan bank tradisional, layanan ini mungkin tidak diwajibkan menyisihkan sebanyak mungkin uang jika pelanggan gagal membayar pinjaman mereka. Ini bisa berisiko bagi perusahaan dan konsumen. Privasi data adalah masalah utama lainnya. Karena semakin banyak layanan keuangan yang beralih ke digital, serangan siber menjadi risiko yang lebih besar. Tantangan yang dihadapi oleh teknologi keuangan kemungkinan akan tumbuh seiring semakin banyak bisnis yang beralih ke digital.





