
Mengatur Keuangan Saat PHK, Rencana 30-60-90 Hari
Kena PHK itu pahit, nggak usah dipoles. Rasanya campur aduk: kaget, kesel, takut soal cicilan. Tapi di sisi lain, ini bisa jadi momen reset hidup. Bukan toxic positivity, ya. Cuma, kalau kamu bisa pegang kemudi finansial 3 bulan ke depan, peluang buat bangkit itu besar banget. Artikel ini ngebahas rencana 30-60-90 hari yang kamu bisa jalanin dari sekarang.
Kenapa Rencana 30-60-90 Hari Penting?
Waktu kamu baru kena PHK, otak biasanya auto masuk mode fight-or-flight. Punya struktur rencana bikin kamu lebih tenang dan ngasih rasa kontrol di tengah ketidakpastian. Uang itu soal rangkaian keputusan harian. Tanpa rencana, kamu gampang kebablasan membakar dana darurat buat hal yang sebetulnya bisa ditunda. Kerangka 30-60-90 hari memecah masalah besar jadi langkah-langkah kecil yang bisa dijalankan. Ada ritme sprint pendek untuk dorongan awal, lalu mode maraton untuk keberlanjutan.
Bagian 1: Hari 0–30, Stabilin Napas dan Uang Tunai
Audit cepat adalah langkah pertama. Kamu perlu tahu runway: berapa bulan kamu bisa hidup dengan uang yang ada tanpa pemasukan baru. Rumusnya sederhana, yaitu Runway (bulan) = (Total cash + dana darurat + pesangon bersih) / (Biaya hidup per bulan dalam mode survival). Total cash mencakup saldo rekening, e-wallet, atau deposito yang bisa dicairkan tanpa penalti signifikan. Dana darurat adalah tabungan yang likuid. Pesangon bersih adalah pesangon setelah pajak dan potongan. Sementara biaya hidup survival adalah versi minimalis dari gaya hidup kamu. Misalnya, kalau kamu punya cash dan dana darurat Rp28 juta, pesangon bersih Rp22 juta, dan biaya hidup survival Rp6,5 juta per bulan, runway kamu kira-kira 7,7 bulan. Ini berarti kamu punya 7–8 bulan bernapas jika disiplin.
Langkah berikutnya adalah mengecek hak dan dokumen PHK. Minta rincian pesangon secara tertulis, cek apakah sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk komponen seperti pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak. Jangan lupa urusan BPJS Ketenagakerjaan, khususnya JHT dan JKP. JKP bisa memberi manfaat uang tunai, akses job center, dan pelatihan. Banyak orang nggak klaim karena nggak tahu. Untuk pajak pesangon, minta breakdown PPh 21, karena ada ketentuan lapisan tertentu yang non-objek atau kena pajak final progresif. Simpan surat pengalaman kerja, karena dokumen ini sering jadi kartu as saat negosiasi di tempat baru. Kalau pencairan pesangon lambat, simpan semua komunikasi email, minta timeline tertulis, dan tetap sopan tapi tegas.
Selama 30 hari pertama, bekukan pengeluaran besar. Tahan dulu rencana liburan, beli gadget baru, atau renovasi yang nggak darurat. Stop auto-debit untuk langganan yang nggak krusial seperti layanan streaming kedua atau ketiga, gym premium, atau kotak snack bulanan. Untuk cicilan, segera kontak bank atau leasing, sampaikan kamu terdampak PHK, dan minta opsi restrukturisasi. Bahasa yang efektif misalnya, “Saya terdampak PHK dan ingin mengajukan keringanan berupa perpanjangan tenor, penurunan bunga efektif, atau masa tenggang pokok 3–6 bulan.” Catat nomor laporan dan nama petugas, karena jejak ini berguna untuk follow-up.
Sekarang saatnya menyusun survival budget. Ini adalah versi paling ramping dari pengeluaran bulananmu. Untuk makan, targetkan Rp1,2–1,8 juta per orang di kota besar dengan porsi masak di rumah 80 persen. Biaya hunian seperti sewa atau KPR usahakan berada di kisaran 30–35 persen dari total biaya survival. Transport bisa ditekan ke Rp300–700 ribu dengan transport umum atau sepeda. Paket komunikasi dan internet bisa turun ke Rp200–400 ribu dengan downgrade paket. Untuk kesehatan, pastikan iuran BPJS aktif dan sediakan Rp150–300 ribu untuk obat atau keperluan kecil. Utilitas seperti listrik dan air bisa ditekan ke Rp300–500 ribu dengan disiplin mematikan perangkat standby. Sisihkan juga Rp200 ribu untuk dana tak terduga kecil dan Rp100–150 ribu untuk hiburan murah biar tetap waras. Triknya, gunakan metode amplop digital mingguan. Saat amplop habis, ya selesai. Disiplin adalah kunci.
Jangan abaikan perlindungan kesehatan. Pastikan BPJS Kesehatan kamu aktif. Jika sebelumnya dibayari perusahaan, segera ubah ke peserta mandiri. Sementara waktu, kelas 2 atau 3 sudah cukup. Kalau kamu punya asuransi swasta, cek masa tenggangnya. Jika premi terasa berat, pertimbangkan untuk menurunkan manfaat sementara daripada polis lapse total. Sakit tanpa asuransi bisa mengacaukan rencana cash yang sudah kamu susun.
Untuk menambah napas, pertimbangkan likuidasi aset non-esensial. Jual barang yang jarang dipakai seperti gadget kedua, kamera yang cuma jadi pajangan, atau koleksi yang punya pasar. Tujuannya adalah nambah runway, bukan jaga gengsi. Tapi jangan jual alat kerja yang justru bisa jadi mesin uang seperti laptop, perangkat audio, atau alat desain. Ini amunisi perangmu untuk cari income.
Sembari merapikan pengeluaran, kamu juga perlu membangun sumber pemasukan cepat atau bridge income. Fokus ke skill yang mudah diuangkan, seperti desain sederhana untuk template, copywriting, editing video pendek, admin marketplace, data entry, transkripsi, virtual assistant, atau tutor. Manfaatkan kanal seperti Sribulancer, Projects, Fiverr, Upwork, LinkedIn, komunitas Telegram atau Discord, dan tentu jaringan teman kantor lama. Target realistisnya, dalam 30 hari pertama, usahakan pemasukan ini bisa menutupi 30–50 persen biaya hidup. Nggak usah sempurna, yang penting jalan dan konsisten.
Rapikan juga urusan pajak dan kewajiban. Update NPWP kalau ada perubahan data. Simpan bukti potong pajak dari pesangon. Ini memudahkan saat lapor SPT dan kadang diminta di proses rekrutmen. Kalau kartu kredit bikin kamu khilaf, pertimbangkan tutup kartu berlimit besar dan simpan satu kartu dengan limit kecil untuk keadaan darurat medis saja. Terakhir, bangun dashboard keuangan sederhana. Pakai spreadsheet atau aplikasi catat uang dengan kolom pemasukan, pengeluaran, saldo, dan target mingguan. Pasang alarm tanggal penting seperti jatuh tempo cicilan, iuran BPJS, dan masa berlaku asuransi. Review progres tiap Minggu malam biar kamu tahu posisi.
Sebagai catatan, banyak orang cenderung meremehkan pengeluaran 10–20 persen. Untuk mengantisipasi bias ini, kalikan estimasi pengeluaranmu dengan 1,2 agar lebih aman.
Bagian 2: Hari 31–60, Optimasi Arus Kas dan Gaspol Cari Income
Memasuki bulan kedua, kamu harus bergerak dari mode “bertahan” ke mode “menstabilkan”. Ini saatnya fokus ke dua mesin: stabilkan arus kas dan bangun jalur peluang kerja atau klien.
Mulailah dengan memangkas fixed cost secara strategis. Untuk hunian, coba negosiasi sewa agar bisa bayar per tiga bulan ketimbang enam atau dua belas bulan jika pemiliknya fleksibel. Kalau perlu, pindah ke kos atau kontrakan yang lebih kecil sementara. Memang pahit, tapi ini memperpanjang napas finansial. Untuk internet, cari paket yang lebih murah atau bundling bareng keluarga atau teman. Di transportasi, hitung total biaya kepemilikan kendaraan (BBM, parkir, pajak, servis) dibandingkan ongkos harian transport umum. Kalau kamu punya kendaraan kedua yang jarang dipakai, menjualnya bisa jadi keputusan logis. Untuk makanan, lakukan batch cooking dua kali seminggu dan belanja di jam-jam diskon di supermarket atau pasar.
Setelah itu, ubah pemasukan sementara menjadi pemasukan yang lebih stabil. Kalau sebelumnya kamu ambil proyek lepas ad-hoc, sekarang incar retainer kecil tapi rutin. Misalnya, admin media sosial 2 juta per bulan, maintenance website 1,5 juta per bulan, atau editing delapan video per bulan 2,5 juta. Dua sampai tiga retainer sudah bisa menutup porsi besar biaya survival. Bikin portofolio ringkas satu halaman di Notion atau web sederhana berisi tiga sampai lima contoh karya dan testimoni singkat. Buat SOP sederhana: bagaimana proses kerja, harga, jumlah revisi, dan tenggat. Klien suka vendor yang rapi.
Upgrade profil profesionalmu. CV yang efektif biasanya 1–2 halaman dan berfokus pada hasil yang terukur. Daripada menulis “bertanggung jawab atas media sosial”, lebih baik tulis “menaikkan conversion rate 18 persen dalam 4 bulan”. Optimalkan LinkedIn: pasang headline jelas seperti “Content Strategist | 5+ years | B2B SaaS & Finance”, tulis bagian About yang to the point, dan buat lima postingan yang berisi value dalam 30 hari. Untuk bidang kreatif, rapikan portfolio di Behance/Dribbble. Untuk dev, update GitHub. Untuk marketing atau product, pertimbangkan menulis case study singkat yang menunjukkan cara berpikirmu.
Networking kadang bikin canggung, tapi manfaatnya besar. Jadikan target reach-out lima orang per hari: mantan kolega, atasan lama, atau komunitas profesi. Formatnya sederhana: sampaikan update kondisi kamu, jelaskan keahlian inti, lalu minta saran atau info peluang. Hindari langsung minta pekerjaan. Orang lebih empati saat dimintai pendapat dan cenderung membuka pintu. Ikut juga event gratis online seperti webinar atau workshop komunitas. Satu koneksi yang tepat bisa lebih berharga daripada mengirim 50 lamaran acak.
Biar proses lamaran nggak asal, bikin sistem. Targetkan 20–30 lamaran terkurasi per minggu, bukan spam ratusan. Siapkan tiga versi CV sesuai role utama kamu. Simpan tracker berisi posisi, nama perusahaan, tanggal kirim, status, dan rencana follow-up. Dengan begitu, kamu punya funnel yang jelas, tahu mana yang perlu diingatkan, dan bisa evaluasi apa yang kurang.
Dari sisi keuangan, jaga buffer dan proteksi. Sisihkan 1–2 juta di e-wallet buat kebutuhan darurat kecil biar cepat diakses, sementara dana lain tetap di rekening utama yang lebih rapi. Review asuransi jiwa bila kamu punya tanggungan. Kalau belum mampu, tunda dulu, tapi catat sebagai prioritas saat income stabil. Urusan pajak untuk side gig juga perlu rapi. Saat pendapatan freelance mulai rutin, catat setiap invoice dan pengeluaran yang terkait kerja, seperti internet atau alat kerja. Ini bisa jadi pengurang pajak saat lapor SPT, dan yang terpenting, kamu nggak pusing di akhir tahun.
Keseimbangan emosi itu penting. Buat jadwal harian sederhana: pagi fokus cari kerja atau proyek, siang eksekusi pekerjaan, sore olahraga 20–30 menit, malam santai. Kurangi doomscroll media sosial, dan arahkan waktumu ke grup peluang kerja. Konsistensi ritme harian membantu kamu tetap waras di tengah ketidakpastian.
Untuk gambaran, perbandingan budget biasa versus survival bisa menghemat banyak. Misalnya, hunian yang semula 4,5 juta ditekan jadi 3,5–4 juta lewat negosiasi atau pindah sementara. Makan yang biasanya 2,5 juta ditekan ke 1,4–1,8 juta dengan masak di rumah. Transportasi yang mungkin 1,2 juta bisa turun ke 400–700 ribu. Internet dan HP yang 600 ribu bisa menjadi 250–400 ribu. Hiburan dari 800 ribu menjadi 100–200 ribu. Lain-lain dari 700 ribu ke 300–400 ribu. Total pengeluaran yang semula 10,3 juta bisa jadi 5,95–7,5 juta. Angka ini hanyalah contoh, jadi sesuaikan dengan kotamu dan situasi pribadi.
Sebagai konteks, data BPS sempat mencatat tingkat pengangguran terbuka sekitar 5,32 persen pada Februari 2024. Artinya pasar kerja bergerak meski kompetitif. Kamu butuh funnel lamaran yang sehat dan konsisten, bukan sekadar banyak-banyakan lamaran.
Bagian 3: Hari 61–90, Eksekusi Jangka Menengah dan Re-route Karier
Di fase ini, keputusan besar mulai diambil. Kamu bisa memilih kembali ke industri lama, pivot ke role yang serumpun, menjalani kombinasi kerja baru plus side gig, atau sekalian full freelance/bisnis kecil. Biar terarah, susun rencana A, B, dan C yang konkret. Rencana A menargetkan kerja full-time sesuai pengalaman dengan kriteria jelas seperti gaji minimal, skema kerja hybrid atau remote, dan kultur tim yang sehat. Rencana B adalah pivot peran yang masih satu rumpun, misalnya dari sales ke customer success, atau dari editor ke content strategist. Rencana C adalah full freelance selama enam bulan sambil membangun portofolio, dengan target income bersih bulanan tertentu dan jumlah klien minimal. Makin konkret rencanamu, makin gampang eksekusinya.
Saat dapat panggilan interview, kamu perlu strategi negosiasi gaji dan benefit. Lakukan riset kisaran gaji lewat situs lowongan atau komunitas profesi. Tanyakan rekan seprofesi untuk angka realistis di kota kamu. Ingat, pesangon bukan alasan untuk menurunkan ekspektasi gajimu. Lihat benefit non-tunai seperti asuransi kesehatan keluarga, opsi WFH/hybrid, budget pembelajaran, dan cuti, karena semua itu punya nilai uang. Saat ditanya ekspektasi, berikan rentang, bukan angka tunggal. Misalnya, “di kisaran 12–15 juta tergantung scope dan benefit.”
Begitu pemasukan mulai stabil, lakukan re-architecture keuangan. Bangun kembali dana darurat hingga 6–9 bulan biaya hidup. Bayar utang yang sempat direstruktur secara lebih agresif untuk menurunkan beban bunga. Pisahkan rekening untuk operasional, tabungan, investasi, dan pajak agar arus kas nggak campur aduk. Mulai investasi secara bertahap, misalnya reksadana pasar uang atau pendapatan tetap untuk parkir dana jangka pendek, dan indeks saham jika profil risiko cocok. Hindari FOMO, karena tujuanmu adalah keberlanjutan, bukan kejar cuan sesaat.
Kalau sampai hari ke-90 kamu belum mendarat di pekerjaan baru, jangan panik. Banyak orang butuh 4–6 bulan untuk mendarat dengan baik. Evaluasi strategi lamaranmu dari segi kualitas vs kuantitas. Minta feedback dari rekruter jika memungkinkan. Perkuat portofolio dengan proyek pro bono terbatas yang benar-benar bisa jadi case study. Naikkan rate side gig sedikit demi sedikit seiring meningkatnya bukti kerja. Kalau peluang lokal tipis, evaluasi opsi remote global atau pindah lokasi kalau skill dan kemampuan bahasa kamu mendukung. Hitung matang biaya pindah versus potensi income.
Proteksi jangka menengah tetap penting. Pastikan asuransi kesehatan tetap aktif. Periksa saldo pensiun/JP/JHT, dan jangan buru-buru mencairkan JHT kalau tidak benar-benar mendesak, karena ini jaring pengaman masa depan. Investasikan waktu untuk skill yang memberi leverage, seperti analitik dasar, penggunaan tools AI, Excel atau Google Sheets tingkat lanjut, copywriting, dan manajemen proyek.
FAQ
Apakah harus langsung ambil kerja apa saja biar ada pemasukan? Jika arus kas mepet, ambil bridge job itu sah-sah saja. Namun, tetap sisihkan waktu setiap hari untuk melamar pekerjaan sesuai jalur karier utama. Jangan sampai kamu terjebak di zona “cukup” yang bikin karier stagnan.
Lebih baik pakai kartu kredit dulu atau tarik dari dana darurat? Utamakan pakai dana darurat. Kartu kredit itu mahal jika tidak dilunasi penuh. Pengecualian bisa untuk kondisi medis mendadak, tapi tetap catat dan lunasi sebelum jatuh tempo.
BPJS Kesehatan gimana kalau status pekerjaannya berubah? Ubah jadi peserta mandiri secepatnya. Pastikan iuran dibayar tepat waktu agar tidak menumpuk tunggakan. Kelas 2 atau 3 cukup selama masa transisi.
Gimana ngatur psikologis biar nggak gampang nyerah? Buat ritme harian, lakukan olahraga ringan, tidur cukup, dan coba journaling lima menit tiap malam. Ngobrol rutin dengan teman yang suportif juga membantu. Bila perlu, konsultasi profesional, karena minta bantuan itu bukan kelemahan.
Boleh nggak ambil kursus berbayar pas lagi irit? Boleh jika return-nya jelas. Cari diskon, beasiswa, atau program singkat yang langsung bisa dipakai untuk cari kerja atau klien. Banyak sumber gratis yang berkualitas juga tersedia.
Kalau punya tanggungan keluarga, langkahnya beda? Prinsipnya sama, namun prioritas proteksi makin tinggi. Pastikan asuransi kesehatan aktif, kebutuhan pokok keluarga aman, dan komunikasikan rencana penghematan secara terbuka agar semua paham kondisinya.
Investasi selama PHK, perlu? Fokus utama adalah cash flow dan proteksi. Investasi berisiko rendah untuk parkir dana jangka pendek boleh, tapi hindari instrumen yang volatil. Jangan kejar keuntungan cepat yang justru berisiko menggoyang rencana.
Kapan harus pertimbangkan pindah kota atau remote global? Pertimbangkan saat 2–3 bulan funnel kerja lokal tetap tipis dan kamu punya skill yang bisa dijual global. Pertimbangkan juga kemampuan bahasa dan kesiapan portofolio. Hitung matang biaya pindah versus peluang income yang realistis.
Data dan Angka yang Perlu Kamu Tahu
Dalam konteks Indonesia, tingkat pengangguran terbuka sempat dilaporkan sekitar 5,32 persen pada awal 2024. Ini menunjukkan pasar kerja sebenarnya bergerak, tetapi persaingan tetap ketat. Manfaat JKP dari BPJS Ketenagakerjaan sering terlewat padahal dapat membantu dengan uang tunai, akses info kerja, dan pelatihan. Soal struktur biaya, rasio hunian ideal berada pada 20–30 persen dari income. Saat krisis, proporsi ini bisa naik sementara, tetapi targetkan turun lagi begitu penghasilan stabil.
Action Plan 30-60-90 Hari
| Periode | Fokus Utama | Aksi Detail | Output/Target |
|---|---|---|---|
| Hari 0–7 | Stabilisasi keuangan & kesiapan dasar |
|
|
| Hari 8–30 | Kontrol pengeluaran & bangun aliran pemasukan awal |
|
|
| Hari 31–60 | Penguatan struktur & percepatan pencarian |
|
|
| Hari 61–90 | Finalisasi rencana karier & penataan ulang keuangan |
|
|
Di hari 0–7, yang kamu lakukan adalah menghitung runway dengan rumus sederhana tadi dan menyusun survival budget dasar. Lanjutkan dengan mengecek pesangon, JHT, dan JKP, serta segera mengatur status BPJS Kesehatan agar tetap aktif. Bekukan pengeluaran non-esensial, hubungi pihak bank untuk negosiasi cicilan, lalu jual aset non-esensial yang tidak berdampak ke produktivitas. Di waktu yang sama, mulai daftar dan membuat profil di platform freelancer agar dapat menjemput peluang awal.
Memasuki hari 8–30, terapkan metode amplop digital mingguan agar pengeluaran terkendali. Kamu perlu mengamankan satu sampai dua proyek kecil atau retainer sebagai pemasukan jembatan. Sambil jalan, rapikan CV, LinkedIn, dan portofolio agar siap ketika peluang datang. Bangun dashboard keuangan agar kamu bisa memantau arus kas secara real-time. Jangan lupa jaga kesehatan fisik dan mental dengan olahraga ringan dan jadwal harian yang konsisten.
Di hari 31–60, fokusmu bergeser ke penguatan struktur. Pangkas biaya tetap seperti hunian, internet, dan transportasi secara strategis. Kirim 20–30 lamaran terkurasi setiap minggu dan lakukan reach-out networking lima orang per hari untuk memperluas peluang. Targetkan memiliki dua sampai tiga klien retainer untuk menstabilkan pemasukan. Catat semua transaksi terkait side gig sebagai persiapan pajak dan untuk memudahkan evaluasi usaha.
Memasuki hari 61–90, waktunya memfinalisasi rencana A, B, dan C sesuai target karier yang kamu tuju. Saat ada tawaran, negosiasikan gaji dan benefit secara cerdas berdasarkan riset. Evaluasi funnel pekerjaanmu dan perbaiki area yang lemah. Bila pemasukan mulai stabil, lakukan penataan ulang keuangan untuk membangun kembali dana darurat, membayar utang lebih agresif, dan memisahkan rekening sesuai fungsi. Terakhir, pilih satu atau dua skill relevan untuk di-upgrade agar nilai jualmu meningkat.
Kena PHK itu bukan akhir cerita. Air tenang memang menghanyutkan, tapi dalam konteks ini jangan terlalu tenang sampai pasif. Kamu perlu action yang konsisten setiap hari. Rencana 30-60-90 hari ini bukan teori semata, melainkan checklist realistis yang bisa kamu jalankan. Kalau kamu disiplin dan adaptif, peluang untuk kembali lebih kuat itu bukanlah hal yang mustahil.








